Witama,, Muhammad Faizal (2025) MAKNA BAHRAIN DALAM AL-QUR’AN DAN INTEGRASINYA DENGAN SAINS MODERN. Undergraduate (S1) thesis, UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu.
![]() |
Text (Skripsi)
Muhammad Faizal Witama_21114220003.pdf - Published Version Restricted to Repository staff only Download (2MB) | Request a copy |
![]() |
Text
BAB I.pdf Download (445kB) |
![]() |
Text
BAB II.pdf Download (615kB) |
![]() |
Text
BAB III.pdf Download (235kB) |
Abstract
Penelitian ini mengkaji makna bahrain (dua laut) dalam ayat-ayat al-Qur‟an dengan mengintegrasikan tafsir klasik dan modern serta temuan ilmu pengetahuan. Latar belakang penelitian ini berawal dari pentingnya memahami fenomena alam yang disebutkan dalam al-Qur‟an, khususnya tentang pertemuan dua lautan yang tidak bercampur, yang kini telah terbukti dalam ilmu pengetahuan. Rumusan masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah bagaimana tafsir klasik dan modern mengartikan makna bahrain dalam al-Qur‟an, serta bagaimana hubungan antara pemahaman teologis tersebut dengan penjelasan ilmiah tentang fenomena pertemuan dua laut. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggali makna bahrain dalam al-Qur‟an dengan mengkaji tafsir klasik dan modern serta mencari integrasi antara tafsir dan sains yang menjelaskan fenomena tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka untuk mengumpulkan data. Sumber data diklasifikasikan menjadi data primer, yaitu berbagai kitab tafsir seperti Terj. Tafsir al-Qur’an al-‘Aẓīm, Terj. Tafsir Jāmi‘ al-Bayān fī Tafsir al-Qur’ān, Tafsir al-Kabīr/Mafātīḥ al-Ghaib, Terj. Tafsir fī Ẓilāl al-Qur’ān, Tafsir al-Āyāt al-Kawniyyah fī al-Qur’ān al-Karīm, dan Tafsir al-Miṣbāḥ. Serta data sekunder yang meliputi literatur ilmiah berupa buku-buku, jurnal ilmiah, artikel, dan hasil penelitian terdahulu. Data dianalisis menggunakan metode analisis tematik dan fenomena ilmiah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa “bahrain” diinterpretasikan beragam oleh para mufassir, termasuk sebagai laut tawar dan asin, dua lautan, laut langit dan laut bumi, hingga metafora untuk ilmu Musa dan Khidir. Dari perspektif ilmiah, fenomena ini dikaitkan dengan konsep barzakh, yakni pemisah yang menjaga karakteristik masing-masing perairan, yang dibuktikan oleh sains modern melalui zona pycnocline dan halocline. Kesimpulannya, integrasi antara tafsir dan sains menunjukkan bahwa al-Qur‟an memiliki keselarasan dengan fenomena ilmiah, memperkuat posisinya sebagai sumber ilmu pengetahuan yang luar biasa.
Item Type: | Thesis (Undergraduate (S1)) | ||||||||||||
---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
Contributors: |
|
||||||||||||
Uncontrolled Keywords: | Bahrain, Al-Qur‟an, Tafsir, dan Sains. | ||||||||||||
Subjects: | Ushuluddin, Adab dan Dakwah > Ilmu Al-qur`an Dan Tafsir | ||||||||||||
Divisions: | Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah > Ilmu Al-qur`an Dan Tafsir | ||||||||||||
Depositing User: | Yuli Astria | ||||||||||||
Date Deposited: | 21 Aug 2025 02:39 | ||||||||||||
Last Modified: | 21 Aug 2025 02:39 | ||||||||||||
URI: | http://repository.uinfasbengkulu.ac.id/id/eprint/4378 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
Downloads
Downloads per month over past year