APRITA, ETIY (2026) KEWAJIBAN LAKI-LAKI TERHADAP ORANG TUA DAN ISTRI DALAM HUKUM POSITIF INDONESIA ANALISIS MAQĀṢID AL-SYARĪ‘AH. Magister (S2) thesis, UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu.
|
Text
DEPAN.pdf Download (2MB) |
|
|
Text
BAB I.pdf Download (471kB) |
|
|
Text
BAB II.pdf Download (636kB) |
|
|
Text
BAB III.pdf Download (303kB) |
|
|
Text
BAB V.pdf Download (299kB) |
|
|
Text
ETIY APRITA_2423680015.pdf - Submitted Version Restricted to Repository staff only Download (2MB) |
Abstract
Kewajiban laki-laki dalam keluarga merupakan aspek penting dalam menjaga keharmonisan dan keseimbangan hubungan antara anggota keluarga, khususnya antara suami terhadap istri dan anak terhadap orang tua. Dalam praktiknya, seringkali muncul ketimpangan dalam pemenuhan kewajiban tersebut, terutama karena adanya perbedaan pengaturan dalam hukum positif Indonesia. Kewajiban terhadap istri diatur secara tegas dalam peraturan perundang-undangan, sedangkan kewajiban terhadap orang tua cenderung bersifat normatif dan tidak diatur secara eksplisit. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai sejauh mana pengaturan tersebut telah sesuai dengan prinsip keadilan dan tujuan syariat Islam. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menjelaskan pengaturan kewajiban laki-laki terhadap orang tua dan istri dalam hukum positif di Indonesia, dan (2) menganalisis pengaturan tersebut dalam perspektif maqasid syari‘ah untuk melihat kesesuaiannya dengan tujuan syariat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan yuridis normatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kewajiban terhadap orang tua diatur dalam Pasal 46 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, yang meliputi kewajiban menghormati dan memelihara orang tua apabila membutuhkan bantuan. Kewajiban ini bersifat kondisional karena bergantung pada kondisi orang tua dan kemampuan anak. Sementara itu, kewajiban terhadap istri diatur lebih komprehensif dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 dan Kompilasi Hukum Islam, yang meliputi nafkah, perlindungan, dan pembinaan rumah tangga. Kewajiban tersebut bersifat langsung (direct obligation) sebagai konsekuensi dari akad perkawinan. Dalam perspektif Maqāṣid al-Syarī‘ah, kewajiban terhadap orang tua merepresentasikan perlindungan terhadap Ḥifẓ al-dīn dan Ḥifẓ al-Nafs, sedangkan kewajiban terhadap istri merepresentasikan Ḥifẓ al-Nafs dan Ḥifẓ al-Nasl. Dengan demikian, pengaturan hukum positif Indonesia pada dasarnya sejalan dengan tujuan Maqāṣid al-Syarī‘ah.
| Item Type: | Thesis (Magister (S2)) | ||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Contributors: |
|
||||||||||||
| Uncontrolled Keywords: | Kewajiban Laki-Laki, Hukum Positif Indonesia, Orang Tua, Istri, Maqasid Syari‘ah. | ||||||||||||
| Subjects: | Pascasarjana > Ahwal Al-syakhshiyah | ||||||||||||
| Divisions: | Pascasarjana > Ahwal Al-syakhshiyah (S2) | ||||||||||||
| Depositing User: | Dr Syahril Syahril | ||||||||||||
| Date Deposited: | 20 Oct 2026 02:14 | ||||||||||||
| Last Modified: | 20 Oct 2026 02:14 | ||||||||||||
| URI: | https://repository.uinfasbengkulu.ac.id/id/eprint/8267 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
Downloads
Downloads per month over past year
Download Statistics
Download Statistics